riverain.id

duduk sini, kita cerita-cerita. ada cemilan di pojok

Kesempatan Kedua

Saya tidak bilang ini salah, tapi memang ada orang yang tidak suka memberi kesempatan kedua kepada barang-barangnya. Bisa karena alasan ekonomis, psikologis, atau bahkan ideologis.

Ada orang yang kalau bajunya robek sedikit saja, dianggap sudah selesai masa pakainya. Tidak ada istilah menjahit atau menambal, bajunya langsung dipensiunkan atau dikasih ke orang lain.

Kemarin saya lihat sebuah video, ada ibu-ibu yang bilang, tetap memakai sesuatu yang sudah rusak sama saja dengan memelihara mental miskin. Mungkin ada benarnya, tapi saya tidak sepakat.

Di Jepang ada seni khusus untuk memperbaiki keramik yang pecah. Namanya kintsugi. Retakan keramik diperbaiki dengan campuran bubuk emas dan logam lain. Dan seringkali ketika selesai diperbaiki, nilainya jadi lebih mahal. Yang lebih mahal menurutku filosofinya: kehidupan bisa rusak, tapi selalu ada peluang untuk memperbaikinya lagi.

Saya baca di buku Shop Class As Soulcraft-nya Matthew Crawford.

Di situ dibilang, di masa depan, orang akan kehilangan kemampuan memperbaiki sesuatu yang rusak. Barang rusak sedikit, buang. Manusia kehilangan gairah dan arah pada kerja-kerja manual.

Matthew seorang doktor filsafat politik dari Universitas Chicago yang sehari-hari juga bekerja sebagai montir bengkel motor.

Pandangan Matthew sangat beralasan. Sudah kelihatan kok tanda-tandanya. Produsen elektronik sekarang memberi jangka waktu untuk aplikasinya. Jadi di masa depan, tiap tahun orang harus ganti hape karena softwarenya sengaja dibuat tidak support lagi.

Beda misalnya dengan motor bensin. Sampai ratusan tahun pun masih bisa dioprek. Keahlian-keahlian semacam ini yang diprediksi akan hilang. Siapa yang diuntungkan kalau demikian? Kapitalisme, tentu saja.

Kesediaan memberikan kesempatan kedua bukan melulu persoalan ekonomi. Waktu Pak Boediono masih jadi Wakil Presiden, seorang ajudannya bercerita pernah diminta untuk memperbaiki sepatu lari yang rusak. Padahal kalau mau beli yang baru tentu bisa saja. Uangnya banyak pasti.

Saya tak tahu apakah ini bagian dari pencitraan atau bukan, Pak Anies Baswedan waktu jaman mau jadi Gubernur DKI juga pernah tertangkap kamera wartawan mengenakan kemeja yang ada jahitan bekas robekannya. Di daerah siku kalau tak salah.

Beliau berdua orang-orang humble, menurutku. Kalau saya yang begitu, murni karena alasan ekonomi. Ada sih sedikit alasan ideologis bahwa industri fashion adalah salah satu penyumbang sampah terbesar dunia. Dua dari 4 celana jeansku ada tambalannya. Semuanya di wilayah yang pasti dipahami oleh sesama kaum overweight.

Saya terberkati, meskipun kerja di dunia pencitraan, bagian pekerjaan saya tidak melulu menuntut baju harus baru. Tidak ada yang harus saya buat terkesan dengan penampilan.

Asal rapih dan tidak beraroma yg mengganggu, itu sudah cukup.

Tempo hari di bus Transjakarta, di depanku berdiri seorang pria yang di tasnya ada jahitan. Saya perhatikan baik-baik polanya, alur jahitan tangan. Tiba-tiba saya merasa sedikit lebih religius. Saya jadi ingat kisah Rasulullah yang menjahit sendiri bajunya yang koyak.

Kesempatan kedua itu sesungguhnya berkah. Bagi yang memberi, maupun bagi yang diberi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *