Di rumah, saya memanggil ibuku dengan Mama. Dua adikku kadang memanggil Ummi. Panggilan Ummi sendiri dulu kami pakai untuk nenek, ibunya ibuku. Sementara untuk nenek buyut –neneknya ibuku, kami justru panggil Ibu.
Belakangan sering dengar anak kecil yang memanggil ibunya dengan Umma. Saya kurang tahu siapa yang memulai tren itu, yang pasti dulu jarang. Salah satu ponakanku juga belakangan memanggil ibunya dengan Umma.
Tadi di mesjid di belakang kantor saya mendengar seorang anak lelaki kecil terus memanggil-manggil Umma-nya. Saya sudah sering Jumatan di sini kalau kantorku tidak mengadakan shalat Jumat karena tanggal merah seperti hari ini. Meskipun di perkampungan, khotbahnya bagus-bagus. Dulu ada beberapa risalah #khotbahJumatuntukDesanti yang saya catat dari masjid ini. Salah satunya soal tobat ekologis.
Tapi Jumatan hari ini saya tidak menyarikan isi khotbah melainkan cerita tentang anak kecil yang sepanjang shalat terus menangis memanggil ibunya itu.
“Umma, Umma…” katanya.
Usianya mungkin belum dua tahun, dan digendong ayahnya. Ia terus menangis dan sesekali meronta, tapi ayahnya memegang dengan erat. Saya bisa melihatnya karena ia hanya beberapa shaf di depanku.
Saya pribadi tidak menganggapnya masalah, malah bagus mengajak anak ke mesjid sedini mungkin. Setahuku orang diperbolehkan shalat sambil menggendong anak. Saya cuma berharap dalam hati mudah-mudahan Imam tidak membaca surah yang panjang.
Yang membuatku agak syok justru kejadian setelah shalat selesai. Seseorang di barisan shafku tiba-tiba menyelutuk.
“Orangtua tolol! Harusnya anak kecil begitu dipegang emaknya aja!”
Suaranya keras, tapi tidak bisa didengarkan oleh ayah yang menggendong anaknya tadi karena sudah buru-buru pergi.
Saya juga buru-buru berdiri.
“Kan shalat jadi terganggu. Ya kan? Ya kan?” Dia terus meminta persetujuan dari jemaah lain tapi tidak ada yang menanggapinya. Anehnya dia mengatakan itu sambil tetap menadahkan tangannya mengaminkan doa penutup Imam. Amin yang aneh.
Saya jadi ingat adikku nomer 3. Waktu kecil pernah dibawa bapakku jumatan dan dia terus bersiul sepanjang shalat. Untung tidak ketemu orang macam bapak yang tadi itu.

Leave a Reply